Beginilah Idul Fitri di kampungku, bagaimana di kampungmu??

Sep 8th, 2010 | By Fifin | Category: blogger magetan Bagi masyarakat muslim di indonesia memang perayaan Hari Raya Idul Fitri memiliki cerita yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan di negara muslim yang lainnya. Karakter bangsa Indonesia yang memang ramah menjadikan setiap cerita hari raya menjadi kenangan yang tidak mudah dilupakan. Terutama jika bagi mereka mereka yang tinggal di daerah pedesaan maka acara silaturahim begitu ramainya melibatkan satu warga kampung. Pun juga itu terjadi di daerahku yakni salah satu kampung di kota kecil Magetan (kagak tahu magetan?? he he tafadhal silahkan dilihat di peta). Mumpung ini hari mendekati lebaran maka saya tergelitik untuk sedikit bercerita bagaimana hiruk pikuknya acara lebaran di kampung saya.
Saya masih teringat jelas dulu sewaktu kecil bagaimana lebaran selalu identik dengan semua hal yang baru...(baju baru, celana baru, sepatu baru,..asal jangan istri baru aja he he). Kita anak anak kecil waktu itu selalu berlomba lomba memakai pakaian baru, H-2 sebelum lebaran selalu hunting pakaian di pasar baru dan mall di madiun. Kalau tidak memakai pakaian baru maka akan menjadi ledekan temen2 he he namanya juga anak anak..,. Kalau dulu acara salam salaman itu begitu ramai sehingga bahkan bisa dilakukan di tengah tengah jalan (ketika itu kenapa bisa ramai gitu ya??), kalau sekarang ya lumayan rame cuma tidak seramai dulu. Meski di kampungku ada sekitar 21 rumah kita datangi satu per satu dengan tujuan biar dapat uang lebaran he he. Semakin banyak rumah yang kita kunjungi maka akan semakin banyak juga uang yang kita peroleh (he he teori probabilitas). Terlebih kalau kita terlihat masih kecil ..yaa umur 5 atau 6 tahun (terlebih balita) itu sangat manjur membuat pemilik rumah merogoh koceknya.

Pun juga dengan tradisi petasan, tidak seperti sekarang yang sudah dilarang ama polisi (mungkin karena banyaknya terorist kalee..) dulu petasan istilahnya adalah wajib bagi kampung kami untuk membuat suasana makin meriah. Bahkan pernah dulu itu ada yang ukurannya sampai satu ember yang kalau meledak bikin satu kampung kedengaran semua. Pernah dulu saya juga bermain petasan yang kecil dan ternyata pernah juga meledak di tangan.. untungnya karena ukurannya kecil sehingga tidak membahayakan dan tangan saya baik baik saja.

Ada juga yang bermain balon terbang, yang dibuat dari plastik kemudian dikasih asap dari bawahnya...maka dengan sendirinya akan bergerak keatas karena tekanan udara yang panas dari bawah. apalagi balon2 yang diterbangkan oleh kampung sebelah wuih...terlihat begitu banyak balon yang bisa dilihat di atas..,. Dan kalau ada balon dari kampung tetangga yang kehabisan uap panasnya maka dengan sendirinya akan turun dan menjadi rebutan anak anak kampung kami,
Yah Hiruk pikuk seperti ini membuat suasana kampung menjadi lebih hidup, para tetangga sering pada keluar rumah sehingga keakraban dengan tetangga menjadi lebih terasa. Cuma sekarang acara seperti petasan dan balon terbang sudah sangat berkurang...(kalau petasan sih memang agak meresahakn dan sekaligus karena ada larangan sama pemerintah), untuk masalah balon terbang mungkin anak anak sekarang kurang kreatif kalee..he he.., ya maklumlah kalau dulu meski bukan di hari lebaran aja permainan anak anak itu bisa seabreg abreg banyaknya mulai dari (maaf pake bahasa jawa yaa...) kasti, betengan, main kartu, main pembungkus rokok, kelereng, adu karet, dan masih banyak lagi..
Yah begitulah suasana idul fitri di kampungku, bagaimana dengan kampungmu..??

Kata Kunci Untuk Artikel ini :

This entry was posted on Wednesday, September 8th, 2010 and is filed under blogger magetan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.

Sponsors

Toko Sepatu Magetan Online readbud - get paid to read and rate articles Netsol Ngawi
 

Banner KOBAMATA


    Copy Code di Bawah :

Banner Blogger Magetan


    Copy Code di Bawah :

Jejaring


Foto Magetan