Pemkab membeli satu unit dryer (mesin pengering) gabah senilai sekitar Rp 450 juta dari APBD 2008. Peralatan itu diharapkan bisa menjadi solusi bagi petani yang selama ini kesulitan melakukan proses pengeringan gabah saat musim penghujan. Selain itu, untuk menjaga stabilitas harga ketika panen raya.
Saat ini mesin tersebut masuk dalam tahapan uji coba. ”Masih kita uji cobakan. Dipastikan pengoperasiannya bulan Januari 2010 mendatang,” ujar Suyadi, Plh Kepala Dinas Pertanian (Disperta) kepada Radar Madiun, di lokasi ujicoba dryer di gudang UPTD Benih Padi Desa/Kecamatan Takeran kemarin (15/5).

Menurutnya, meskipun harga satu unit dryer terbilang mahal, pengadaan mesin pengering gabah berteknologi tepat guna itu bisa mengatasi kendala petani. Terutama, ketika musim penghujan. ”Gabah satu ton perlu waktu dua hingga tiga hari bisa dikeringkan. Dengan alat ini, waktu pengeringan relatif lebih singkat,” jelasnya.

Suyadi mengatakan, mesin dryer yang didatangkan dari Kudus, Jawa Tengah itu saat uji coba sebelumnya memiliki beberapa kelebihan. Dari segi kapasitas, gabah kering panen (GKP) sebanyak 10 ton bisa dikeringkan dalam waktu 10 hingga 12 jam. Dengan menghabiskan bahan bakar solar hanya empat liter dan 500 kilogram sekam untuk pembakaran. ”Dari hitungan tersebut, petani bisa mendapatkan kemudahan. Sehingga harga gabah di pasaran ketika panen raya nanti diharapkan tidak anjlok,”ujarnya.

Dwi Suprijanto, Kepala Bidang Permodalan Pengolahan dan Pemasaran Hasil, Disperta Magetan menyatakan bahwa pengadaan mesin pengering gabah bukanlah kali pertama ditempuh pemkab. Tahun 2007 lalu juga dilakukan pengadaan mesin serupa, namun kapasitas maksimalnya hanya 6 ton dan berbahan bakar minyak tanah.. ”Karena menggunakan minyak tanah, biaya operasional yang diperlukan sangat tinggi. Akibatnya, mesin itu tidak digunakan lagi,” jelasnya.

Sedangkan, mesin pengering yang baru diuji cobakan ini menggunakan sekam sehingga bisa menekan biaya operasional. Hanya diperlukan 500 kilogram untuk mengeringan GKP 12 ton. Dan, sekam sangat mudah didapatkan dengan harga relatif murah. ”Sudah ada pihak swasta di Kelurahan Ringin Agung, Magetan kota, yang menggunakan mesin serupa, namun kapasitas produksinya lebih kecil,”tambahnya. Ditanya soal biaya yang dikeluarkan petani untuk mengeringkan gabah dengan dryer itu, Dwi mengatakan baru akan dikaji setelah uji coba. (ota/isd)

(jawapos)