29 Dec | in berita, magetan 0
Dua Santri Tewas Kedinginan
Rencana Istighotsah dengan mengambil lokasi di puncak Gunung Lawu Magetan, berakhir duka. Dua pendaki yakni santri Pondok Pesantren Al Jannatu Darul Marwah, Desa/Kecamatan Jogorogo, Ngawi meninggal dunia. Diduga kedua korban terserang hipotermia atau kedinginan. Sedangkan ratusan santri lain dalam kondisi selamat.
Rombongan santri dari ponpes yang biasa disebut Pondok Condromowo itu, berangkat dari Jogorogo hari Minggu (27/12) sekitar pukul 07.00 WIB. Rombongan ada yang naik dari Jogorogo dan ada santri serta jemaah yang naik dari pintu Cemoro Kandang, Karanganyar. Ada juga melalui pintu Cemoro Sewu.
Mereka ini berangkat ke Gunung Lawu untuk acara istighotsah bersamaan tahun baru 1 Muharram dan 1 Sura serta haul Sunan Lawu. Menurut pimpinan rombongan, Gufron Zaenuri, acara tersebut digelar Pondok Condromowo setiap hari ke-10 bulan Muharram dan Sura. ”Tidak ada firasat apapun sebelum berangkat. Karena, ini acara rutin setiap tahun,” kata Gufron.
Dua korban yang meninggal itu adalah Muji Rohman, 18 tahun, warga Desa Candi, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora. Korban kedua, Jumain, 32 tahun, warga Demak. Muji meninggal di pasar Dieng sekitar pukul 16.30 WIB.
Sedangkan Jumain, menghembuskan nafas terakhir di Bulak Peperangan. Diduga kuat, Muji dan Jumain tidak kuat lantaran hawa dingin yang menusuk dan kondisi tubuh yang kurang prima.
Kabar adanya pendaki yang kolaps itu kali pertama diterima pos pemantau Cemorokandang, Karanganyar pada hari Minggu sekitar pukul 17.00 WIB. Setelah melakukan koordinasi dengan pos pemantau Cemorosewu, tim evakuasi berangkat ke puncak.
Hari Minggu malam, sekitar pukul 21.00 WIB, ada informasi susulan yang menyatakan, satu pendaki lagi dalam kondisi sudah tak bernyawa karena kedinginan. Informasinya, saat itu, cuaca Gunung Lawu memang tidak begitu bersahabat bagi pendaki. Suhu di bawah minul nol derajat celcius. Selain itu, hujan es terus mengguyur kawasan wisata religi tersebut.
”Terbanyak, rombongan Pondok Condromowo yang masuk Gunung Lawu melalui Jogorogo. Yang lewat sini (Cemorokandang) sedikit. Ada juga yang lewat Cemorosewu,” ujar Heri Congkol, petugas di Pos Pemantau Cemorokandang. Sekitar pukul 04.00 WIB, tim evakuasi kembali diberangkatkan menuju lokasi meninggalnya Muji dan Jumain. Satu tim lagi juga berangkat naik sekitar pukul 09.00 WIB. Total ada 80 orang dari tim evakuasi yang melakukan pertolongan. Mereka terdiri dari AGL, UBK, SAR Karanganyar, SAR Merapi, Polres Magetan, Perhutani, Polhut, Polmob Surakarta.
Kabar yang diterima koran ini, Muji dan Jumain berangkat dari Jogorogo dalam kondisi sehat. Hanya saja, Muji kurang mempersiapkan diri terkait dengan baju hangat. Selama perjalanan, hujan juga mengguyur mereka. Ditambah hujan es, cuaca di kawasan puncak semakin dingin.
”Sebelumnya sempat diberikan pertolongan. Akan tetapi, kondisi jadi berbeda karena setelah keringatan terkena hujan ditambah hujan es. Jadi, korban kedinginan,” ujar Kapolres Karanganyar AKBP Edi Suroso didampingi Kabag Ops Polres Magetan Kompol Nuruddin M di pos pemantau Cemorokandang.
Upaya evakuasi Muji dan Jumain sempat dikacaukan dengan informasi masih ada enam santri dan jemaah Pondok Condromowo yang hilang. Namun, tim mendapatkan kepastian kabar bahwa keenam santri dan jemaah tersebut telah kembali ke pondok melalui Jogorogo.
Sekitar pukul 13.30, kedua jenazah berhasil dievakuasi menuju pos pemantau Cemorokandang. Gema salawat Nabi menyambut kedatangan dua korban yang dibungkus dengan kantong mayat warna hitam dan kuning tersebut.
Selanjutnya, jenasah Muji dan Jumain dibawa ke RSUD dr Sayidiman untuk dilakukan otopsi dan dimandikan sebelum diserahkan kepada Pondok Condromowo dan dimakamkan oleh keluarganya di Blora serta Demak. (rif/tya)
jawapos
Kata Kunci Untuk Artikel ini :
Artikel yang Berhubungan:
Lebih baik berbuat sesuatu yang bermanfaat meski itu kecil, daripada cuma bisa ngomong atau diam saja.