berita magetan

”Jangan Sampai Terulang Lagi”

Sebuah tetenger berdiri di Monumen Soco. Tingginya sekitar dua meter. Di puncaknya ada lambang negara, burung Garuda. Di samping kanan tugu tersebut, ada prasasti. Itu berisi ”Daftar Nama Korban Keganasan PKI 1948”.

Di bawah tetenger atau tugu itulah, sebanyak 108 mayat penduduk ditemukan tak bernyawa dengan tubuh penuh luka. Mereka ini menjadi korban keganasan Partai Komunis Indonesia (PKI) pimpinan Muso, yang ingin mendirikan negara Soviet Republik Indonesia (SRI), dengan ibukota yang rencananya di Madiun.

Itu merupakan sumur tua yang menjadi lokasi pembuangan korban PKI kala itu. Satu sumur ”Lubang Buaya” lagi juga ada di Soco bagian utara. ”Di sumur ini, dulu ditemukan ratusan mayat korban PKI,” kata Nyamin, warga Soco, yang rumahnya berada di barat pendapa monumen.

Nyamin memang bukan saksi hidup yang tahu persis kekejaman PKI saat itu. Pada tahun 1948, dia baru berusia delapan tahun. Sehingga, dia masih memiliki ingatan Peristiwa Madiun yang menggegerkan dunia internasional tersebut. ”Seingat saya, orang-orang disuruh pergi dari sini (Soco, red). Suasananya mencekam dan desa ini sepi. Tidak tahunya, Soco dijadikan lokasi pembantaian dan dua sumurnya jadi tempat pembuangan mayat,” cerita Nyamin dalam bahasa jawa.

Selain tetenger yang di bawahnya lubang sumur, di sebelahnya ada sebuah gerbong kereta api Kertapati. Gerbong tersebut, menurut cerita Nyamin, untuk mengangkut masyarakat yang ditawan PKI. Saat itu, tawanan disekap di loji, kompleks PG Rejosari.

Kemudian, dengan menggunakan gerbong, tawanan diangkut menuju Soco. Di sinilah mereka disiksa dan dibuang ke sumur tua dengan kedalaman antara 20-25 meter tersebut. ”Sumur ini dulu tanahnya milik keluarga saya. Kemudian oleh pemerintah, ditukar dan dibangun monumen,” terang Nyamin.

Pria sepuh yang lahir di tahun 1940 tersebut mengaku, sudah membuang jauh-jauh ingatannya tentang kekejaman PKI. Namun, tatkala monumen dijadikan lokasi upacara pada setiap tanggal 1 Oktober, dia teringat masa-masa lampau di tahun 1948.

Baik melalui cerita orang tuanya maupun tetangga kanan-kiri yang menjadi saksi hidup Peristiwa Madiun 1948, yang kini kebanyakan sudah meninggal dunia. ”Harapan saya, jangan sampai peristiwa seperti PKI tahun 1948 terulang lagi,” begitu kata Nyamin.

Data dari berbagai sumber, menyebut, dari 108 mayat yang ditemukan saat penggalian sumur Soco, 68 di antaranya berhasil diidentifikasi. Sedang 40 korban keganasan PKI lain jenazahnya tidak dikenali.

Ada beberapa tokoh masyarakat dan kiai pondok pesantren yang menjadi korban Peristiwa Madiun 1948. Seperti, KH Imam Mursjid (Pimpinan Pesantren Sabilil Muttaqin, Takeran), dan KH Soelaiman Zuhdi Affandi (Pimpinan Pesantren Ath-Thohirin, Mojopurno). Termasuk Bupati Magetan, MNG Sudibyo.

Monumen Soco memang meninggalkan catatan sejarah bersamaan berdirinya republik ini. Ada banyak darah manusia yang namanya terpampang dalam prasasti yang diresmikan Ketua DPR RI M. Kharis Suhud pada 15 Oktober 1989.

Pun hari ini (1 Oktober 2009), di Monumen Soco, Bupati Sumantri dan Muspida Magetan akan memperingati hari besar nasional yang dikenal dengan Hari Kesaktian Pancasila. (rif/irw)

jawapos

admin
Lebih baik berbuat sesuatu yang bermanfaat meski itu kecil, daripada cuma bisa ngomong atau diam saja. Profil : Google + Komunitas Blogger Magetan
http://kotamagetan.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *