Psikolog di Universitas negeri Ames, Iowa, Amerika Serikat, melakukan penelitian terhadap dampak media, termasuk di dalamnya jejaring sosial, terhadap anak. Dia menemukan bahwa jejaring sosial lebih merugikan daripada televisi bagi pendidikan si anak.

Douglas Gentile, psikolog anak yang meneliti hal ini, mengatakan bahwa sebenarnya hal yang lebih merugikan dalam berkutat di jejaring sosial daripada menonton tv adalah cyberbullying. Namun, dia mengatakan kedua hal tersebut—menonton TV dan jejaring sosial—memengaruhi kinerja anak di sekolah.

Biasanya anak yang lebih banyak menghabiskan waktunya di depan layar komputer atau handphone asyik di situs jejaring sosial memiliki kinerja yang buruk di sekolahnya.

“Tidak semua anak seperti ini, namun masuk akal, ketika setiap jam si anak bermain video games atau komputer mereka tidak mengerjakan PR, membaca, menjelajah maupun mengerjakan sesuatu,” ujar Gentile seperti dilansir dari laman Associated Press, Kamis 28 Oktober 2010.

Gentile menyebut hal ini sebagai hipotesis peralihan, di mana waktu mereka di depan layar menggantikan waktu mereka mengerjakan PR.

Untuk kasus menonton TV, Gentile mengatakan secara sosial ini lebih baik ketimbang di depan layar menjelajah jejaring sosial. Biasanya, pada saat anak menonton TV, orang tua dapat ikut nimbrung dan berbagi pengalaman, namun tidak demikian jika anak di depan layar komputer.

“Jika anak bermain handphone atau chatting dengan teman sekolahnya, maka itu adalah pengalaman pribadi. Mereka seperti membisikkan sebuah rahasia, dan itu tidak sopan,” ujar Gentile.

Menurut poling dari Associated Press-mtvU, sepertiga mahasiswa responden menggunakan komputer, handphone, game selama lebih dari enam jam per hari.

Menurut Yayasan Keluarga Kaiser yang dikeluarkan pada bulan Januari, sarana media yang digunakan oleh anak usia 8-18 tahun—TV, musik, komputer, video games, film– meningkat dari enam jam, 21 menit perhari tahun 2004 menjadi tujuh jam, 38 menit pada tahun 2009.

Gentile mengatakan bahwa dampak buruk dari hal ini dapat diatasi dengan apa yang dinamakannya faktor pelindung. Termasuk di antaranya guru yang baik dan sekolah yang bermutu, minat baca, keluarga dengan nilai-nilai pendidikan.

“Jika kau mempunyai semua faktor pelindung ini, maka hal ini dapat diminimalisir,” ujar Gentile. (umi)

sumber : http://vivanews.com