Mengunjungi Sumberdodol yang Dikembangkan sebegai Desa Wisata

Mengunjungi Sumberdodol yang Dikembangkan sebegai Desa Wisata

Desa Sumberdodol, Kecamatan Panekan, Magetan, saat ini terkenal karena ada beberapa warganya yang terkena malaria. Namun, ternyata desa tersebut dipilih untuk pengembangan desa wisata. Bagaimana suasananya?

M. ARIF WIDIYANTO, Magetan

Seorang perempuan paro baya, siang itu, melintas di depan Balai Desa Sumberdodol. Ia berjalan agak membungkuk lantaran punggungnya mengangkut satu karung rumput pakan ternak.

Perempuan itu terus berjalan menuju rumahnya yang berjarak cukup jauh dari balai desa. Meski matahari nyaris berada di atas kepala, suasana Desa Sumberdodol cukup sejuk. Maklum desa tersebut berada di lereng Gunung Lawu, yang termasuk wilayah Kecamatan Panekan.

Mayoritas, warga setempat berprofesi sebagai petani. Di musim penghujan seperti ini, mereka menanam padi di areal yang terletak di lereng pegunungan tersebut. ”Memang, kebanyakan warga di sini petani. Baik pemilik lahan maupun petani penggarap,” kata kepala Desa Sumberdodol, Suparmin, kepada koran ini, beberapa waktu lalu.

Desa Sumberdodol ternyata menyimpan potensi sumber air yang luar biasa. Di desa tersebut, ada 11 mata air. Yang terbesar adalah sumber Tirta Mudo. ”Sumber air merupakan kekayaan alam di sini,” terang Suparmin.

Selain untuk perairan sawah, 11 sumber tersebut untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari masyarakat Sumberdodol dan sekitarnya. Tidak hanya itu, PDAM juga mengambil bahan baku dari Sumberdodol. ”Kalau PDAM ada dua pipa primer. Kerjasama ini sudah cukup lama,” ungkap dia.

Selain itu, sumber air di situ juga dinikmati sejumlah desa di bawahnya. Yakni Sidokerto dan Cepoko. Kerjasama yang dijalin menggunakan sistem pembayaran hasil pertanian, berupa gabah.

”Tiap satu dim dibayar dengan satu ton gabah. Jadi kalau harga gabah bagus, ya tarifnya bagus. Kalau harga gabah sedang turun ya turun. Tapi tetap setara dengan gabah satu ton,” terang dia.

Tahun 2009 lalu, Desa Sumberdodol dipercaya oleh Pemprov Jawa Timur dan Pemkab Magetan sebagai salah satu pilot project desa wisata. Itu sebabnya, di kawasan ini dibangun sebuah kolam renang. Kolam untuk anak-anak tersebut berada di belakang balai desa.

Meski dalam taraf pembangunan, namun setiap hari libur sudah dikunjungi masyarakat sekitar. Tiket masuknya pun sangat murah. Hanya Rp 2 ribu per orang. ”Uang tiket masuk masuk kas desa untuk dikelola,” jelas Suparmin.

Ke depan, tidak hanya kolam renang. Akan tetapi, pihak pemerintahan desa juga akan membangun tempat bermain anak-anak dengan lokasi berdekatan dengan kolam tersebut. ”Selain itu, kami juga mengandalkan keasrian alam dan lahan pertanian sebagai lokasi desa wisata,” ujar Suparmin.

Di Sumberdodol, lahan pertanian memang menyuguhkan pemandangan yang indah. Apalagi jika wisatawan datang bersamaan dengan musim tanam atau pas panen raya. Di desa tersebut, petani masih menggunakan bajak tradisional dengan kerbau atau sapi sebagai alat penggeraknya. ”Nuansa alam memang yang kami jual.” *** (isd)

jawapos

Random Posts

About the Author

Jangan Cuma Diam !!!