Mendiknas Muhammad Nuh meminta seluruh lapisan masyarakat agar menghentikan pro kontra masalah Ujian Nasional (Unas) tahun 2010. Pasalnya, Unas merupakan metode standar kelulusan yang memiliki banyak positifnya dan paling sendikit memiliki nilai negatifnya, jika dibandingkan dengan metode-metode kelulusan sebelumnya.

“Tidak mungkin, Unas ditiadakan. Sebab, itu menjadi metode kelulusan yang sudah ada, sejak zaman sebelum merdeka. Kami berharap pro-kontra Unas tahun ini, diberhentikan. Sebab, semuanya akan tetap mendapatkan evaluasi. Jangan sampai hanya masalah satu pohon, akan membiarkan ribuan pohon lainnya rusak,” terang Muhammad Nuh, saat hadir dalam acara Ulang Tahun (Ultah) ke-66 Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM), di Kelurahan/Kecamatan Takeran, Kabupaten Magetan bersama Gubernur Jatim, Soekarwo, Minggu (10/1).

Menurut Nuh, Unas itu sudah merupakan metode standardisasi kelulusan paling baik. Alasannya, sudah berdasarkan pada hasil evaluasi pelaksanaan ujian setiap tahun. Dia mencerikan, sejak zaman sebelum kemerdekaan RI, ujian tahunan ini dinamakan Ujian Negera hingga tahun 1971. Selanjutnya, Ujian Negara dievaluasi menjadi Ujian Sekolah dari tahun 1972 – 1992. Kemudian ujian sekolah dievaluasi menjadi Ujian Sekolah dan Negara yang disebut Evaluasi Belajar Tahap Akkhir Nasional (Ebtanas) tahun 1992-2002. Ujian sekolah itu banyak kelamahannya, yakni tidak ada standardisasi nilai kelulusan secara nasional. Selain itu, cenderung lulus 100 persen. Sebab, yang memiliki hak kelulusan hanya pihak sekolah.

“Kalau semuanya lulus, bagaimana standardisasi yang ditetapkan panitia sekolah? Setiap metode itu ada kelemahan dan kelebihannya. Itu kan masih menimbulkan banyak persoalan. Jadi pro-kontra ini, seharusnya dihentikan. Berdasarkan hasil evaluasi Unas masih menjadi metode yang paling banyak positifnya dan paling sedikit negatifnya,” tegasnya. nwan

sumber: http://www.surya.co.id