Menyiapkan berbuka puasa, biasanya menu makanan cukup bervariasi. Termasuk hidangan kue. Tak heran jika banyak ibu rumah tangga menyiapkan hidangan berbuka secara khusus. Hal ini membuat penjual jajanan dan takjil pun kecipratan rejeki. Termasuk yang berada di pasar-pasar tradisional. “Lumayan juga sih, saat bulan puasa begini hampir semua jajanan diminati,” kata Nanik, penjual jajanan di Pasar Manisrejo.

Kue dan penganan manis banyak diserbu ibu-ibu rumah tangga. Beberapa penjual di pasar tradisional mengakui ada kenaikan harga kue setelah gula pasir meroket. “Tetapi ya tidak banyak,” jelasnya. Jika sebelumnya Rp 250 per biji sekarang jadi Rp 350 atau Rp 1000 mendapat tiga.

Nanik seperti halnya para penjual kue lainnya mengaku paling sedikit membawa 300 kue dalam berbagai jenis. Selain kue yang berbahan tepung, dia juga menjual gorengan dan beberapa lauk pauk yang sudah dibungkus. Sebagian besar barang dagangannya diambil dari pembuat kue di sekitar pasar. Dari hasil penjualannya dia bisa mengantongi untung sampai Rp 30 ribu per hari. “Kalau tidak saat puasa ya paling membawa 150 biji saja,” katanya.

Di Pasar Baru Magetan, pengunjung juga memadati arena penjual jajanan. Jananan sebangsa lapis, pukis dan beberapa jenis dodol jadi favorit warga yang berbelanja kebutuhan lebaran. Di sini, satu penjual jajanan bisa menjual sampai ratusan biji kue dengan harga bervariasi. Antara Rp 300 sampai Rp 1000 per biji. Selain itu bahan membuat es cendol juga banyak dijual dan turut jadi jujugan para pengunjung. “Kalau di luar bulan puasa ya penjualan lebih kecil dari ini,” kata Sukarni, salah satu penjual kue. Menjelang hari raya Idul Fitri, ┬ámembeli baju anak-anak lebih banyak dilakukan di pasar tradisional karena harganya yang miring. Saat itu pula mereka menyerbu para penjual kue agar tidak repot lagi menyiapkan takjil saat sore hari. “Sebenarnya ke Pasar Baru untuk beli baju muslim anak saya, tetapi ada penjual jajan ya sekalian membeli untuk buka puasa nanti,” kata Sumarni, warga Parang, Magetan. (ari/tya)

jawapos