Omzet Digerogoti Atap Bolong
Mar 26th, 2012 | By admin | Category: berita, magetanSejumlah pemilik bedak di Pasar Baru Magetan mengeluh. Pasalnya, atap fiber yang bolong hingga kini tak tersentuh perbaikan. Akibatnya, ketika hujan turun, lokasi jualan bisa dipastikan tergenang air. Airnya pasti langsung masuk. Ketika hujannya deras, sudah pasti banjir, kata Sriari, salah seorang pedagang, kemarin (23/3).
Jika hujan turun cukup deras, Sriari yang berdagang pakaian ini memilih tak berjualan dan menanggung konsekuensi turunnya omzet penjualan. Akhirnya pasar ini semakin hari semakin kumuh, ujarnya. Dia menuturkan, kondisi atap bolong itu terjadi usai Magetan diempas angin ribut akhir Januari lalu. Namun, hingga saat ini belum ada tanda-tanda dari pemkab setempat akan memperbaikinya. Sebenarnya atap ini awalnya juga fiber, tapi cukup tebal. Sekitar tahun 2010, karena atap terlihat kumuh, akhirnya diganti fiber ini. Tapi bahannya sangat tipis, ungkapnya.
Sekretaris Asosiasi Pengusaha dan Pedagang Pasar Baru Magetan Sunardi menegaskan bahwa bolongnya atap pasar membawa dampak serius tak hanya pada beberapa pedagang. Namun, membuat pusing puluhan pedagang yang memiliki bedak di bawah atap tersebut. Meski saat ini kebanyakan pedagang mengantisipasinya dengan memasang terpal, menurutnya, hal itu tak banyak membantu. Di sisi lain, lanjut Sunardi, pedagang tetap dibebani retribusi bulanan yang kabarnya bakal dinaikkan. Saat ini pedagang ditarik retribusi Rp 40-an ribu per bulan. Ditambah biaya keamanan Rp 5000. Itu untuk bedak ukuran 3×4 meter. Belum lagi tarif listrik, tegas Sunardi.
Terpisah, Kabag Humas dan Protokol Pemkab Magetan Saif Muchlissun mengungkapkan bahwa pemkab tak menutup mata seputar kondisi Pasar Baru. Kami tetap memprioritaskan perbaikan infrastruktur pascabencana lalu. Tapi semua itu butuh proses. Pasar Baru tetap menjadi prioritas, di samping atap GOR Ki Mageti yang juga mengelupas, tegas pria yang akrab disapa Mukhlis ini. (wka/isd)





Kasihan banget para pedagangnya, harus segera diperbaiki dong.
wah coba magetan punya mall kyak di Madiun atau di kota-kota besar lainnya.
mungkin pendapatan daerah juga meningkat dan kunjunga pariwisata tambah meningkat. contoh lah seperti kb. Kediri,
bukan rahasia umum lagi anggaran umum habis untuk belanja rutin yaitu gaji pns. akhirnya pembangunan berhenti, pns sudah menumpuk anehnya setiap tahun ada penerimaan cpns. tambah mawut, belajar membaca dulu ahhhh, baru memimpin magetan