Musim panen waluh telah tiba.Labu kuning yang di luar negeri menjadi simbol utama pesta helloween itu masih terpinggirkan.Padahal,buah tersebut bisa menjadi ikon Magetan bila dibudidayakan lebih serius. Sentra buah waluh atau istilah latinnya cucurbita mosichata ini di Desa Ginuk dan Botok,Kecamatan Karas, Magetan.Selama ini,warga setempat masih menjadikan tanaman ini sebagai komodfitas sampingan. ”Saat ini banyak diambil tengkulak.Kalau tidak ya dijual di pinggir jalan seperti ini,”kata Sumiati, warga Ginuk,kemarin(22/6).
Puncak masa panen waluh ini biasanya pada bulan Juli sampai Agustus.Namun,memasuki bulan Juni ada yang sudah mendahului panen.Karena itu,tak heran jika melintasi jalur Karas-Magetan,tepat memasuki Ginuk, sudah mulai banyak warga yang menjual waluh di kanan dan kiri jalan raya. Harganya pun relatif murah.Antara Rp6ribu sampai Rp20 ribu per buah,tergantung besar kecilnya buah. ”Lumayan,sehari bisa terjual lima sampai sepuluh buah,”ujarnya.

Sebenarnya,buah waluh ini memiliki nilai ekonomis cukup tinggi.Ini bila warga kreatif dan ada pembinaan dari pemkab setempat.Sebab,buah labu kuning ini tahan simpan hingga 8-12 bulan.”Kebanyakan memang jual buah saja.Belum banyak yang mengolah menjadi keripik atau makanan ringan lainnya,”ujar dia.

Padahal,ada banyak aneka penganan olahan dengan bahan dasar buah waluh ini dan tentu saja bernilai ekonomis tinggi.Misalnya,wingko,emping atau stik,serta kwaci (biji waluh).(rif/sat)

radarmadiun