Distan Kembangkan Kentang Granola

0
284

Sejumlah kendala menghadang pengembangan Magetan sebagai sentra penghasil sayur mayur di wilayah eks-Karesidenan Madiun. Salah satunya karena ketidakmampuan menyediakan bibit kentang jenis granola. ”Kentang granola ini memiliki prospek bagus.Kami memulai pembibitan sejak tahun 2006. Tapi, kemampuannya masih terbatas dengan kebutuhan bibit petani,” kata Kepala Bidang Pengembangan Hortikultura Dinas Pertanian(Distan)Agus Supriatna, kemarin(12/3).

Dikatakan, setiap tahun, kapasitas penyediaan bibit kentang granola oleh Dinas Pertanian (Distan) sebanyak 25 ton.Padahal,luas lahan yang siap ditanami kentang ada 350 hektare.”Bibit yang kami produksi ini memiliki sertifikat,”ujar Agus. Keterbatasan penyedian bibit kentang granola bersertifikat itu lantaran Dinas Pertanian tidak memiliki lahan penangkaran benih sendiri. ”Saat ini yang dilakukan melalui kerjasama dengan petani.”

Dengan kondisi demikian,menurut Agus,terdapat kelemahan terhadap benih yang belum cukup umur dipanen dan ditanam.Akibatnya,hasil panenan tidak bagus. ”Sementara,kekurangan bibitnya terpaksa petani menggunakan bibit yang tidak bersertifikat yang dibeli dari luar Magetan,”jelas dia.

Dikatakan,harga benih kentang yang bersertifikat maupun tidak, sebenarnya terpaut tidak begitu besar. Yang bersertifikat seharga Rp7ribu/Kg. Sedangkan yang tidak bersertifikat seharga Rp5.500/Kg. ”Namun hasil produknya sangat jauh selisihnya.”
Diterangkan,untuk satu hektare lahan dengan bibit bersertifikat mampu menghasilkan sampai 20 ton dan benih yang tidak bersertifikat hanya mampu lima sampai dengan enam ton. ”Dengan bibit bersertifikat, produksi akan bisa banyak, beda dengan bibit yang tak bersertifikat,” ungkap Agus.

Saat ini lahan yang cocok untuk tanaman kentang di wilayah Plaosan,Sidorejo dan Poncol. Untuk tahun 2011 mendatang, direncanakan dikembangkan di Panekan yang memiliki iklim yang sama. Menurut dia, tanaman kentang ini membutuhkan dana yang cukup besar. Untuk setiap areal satu hektare membutuhkan biaya Rp 40juta. Sehingga tidak semua petani mampu melaksanakannya. Sementara itu, pemasaran hasil panen ke wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat dengan harga Rp12.000–14.000/Kg. (rif/isd)

radarmadiun

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here