GURU: diGugu Lan ditiRU

0
250


Pada suatu pagi, ketika saya bersiap untuk berangkat bekerja. Ada SMS masuk ke HP saya. Belum selesai saya membaca isi pesan yang ternyata dari wali murid, giliran ada panggilan masuk. Dari nomor yang tak dikenali. Oh ternyata dari wali murid yang SMS tadi. Ehm . . . dari Mbah Uti salah satu murid saya, yang namanya Adam (sebut saja begitu). Dalam SMS maupun teleponnya, Mbah Utinya Adam curhat. Yang intinya beliau minta tolong kepada saya agar menasehati (membujuk) Adam agar mau diambil darahnya, sebagai tindak lanjut pemeriksaan dokter. Karena Adam memang baru sembuh dari sakit. Mbah Uti tersebut bingung luar biasa karena gak bisa membujuk Adam. Omnya, Ayahnya pun tak bisa. Walhasil beliau meneleponnya saya. “Inggih, mbah uti . . . InsyaAllah nanti saya bicara dengan Adam”. “Terimakasih Nak Guru . . ., tapi jangan bilang-bilang Adam kalau saya menelepon Bu Yuli” Kata Mbah Uti Adam sebelum mengakhiri teleponnya.

Setelah telepon ditutup saya bertanya-tanya, kenapa yang telepon neneknya bukan ibunya atau ayahnya. Belakangan saya tahu dari teman sekantor yang rumahnya dekat dengan Adam. Ternyata murid saya ini adalah korban broken home. Ketika bayi, dia sempat menjadi rebutan antara Ayah dan Ibunya yang bercerai. Bayi usia 1 bulan yang harusnya mendapat perhatian dan kasih sayang lengkap ortunya sudah mengalami hal tersebut. Akhirnya si Adam di rawat sang nenek (dari Ayah). Dia tidak mengenal baik ibu kandungnya, sementara Ayahnya menikah lagi. Dan tinggal di luar kota. Ehm . . .jadi paham, makanya Mbah Utinya menjelaskan kalau Adam adalah Cucu juga anak. Karena memang beliau yang merawatnya sejak masih merah.

Tanpa menunggu lama, pagi itu saya bicara dari hati ke hati dengan Adam. Kebetulan hari itu agenda di sekolah adalah “Jalan Sehat Sabtu Pagi”. Agenda rutin yang diprogramkan setiap Sabtu pekan terakhir. Sambil jalan menapaki jalanan aspal kampung, saya menggandeng kadang merangkul si Adam. Saya berusaha dia nyaman saya tanya. Tanpa membuatnya berpikiran bahwa ada campur tangan mbah utinya dalam dialog-dialog tersebut. Pada awalnya saya bertanya kenapa dia tidak masuk beberapa hari, sakit apa?. Pada akhirnya dia bercerita sendiri tentang kunjungannya ke dokter, dan dokter menyuruh untuk periksa darah ke Lab. Nah, pucuk di cinta ulam tiba . . . kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Adam mengaku dia tidak mau diambil darah, karena takut.

Sambil terus berjalan saya berdialog dengannya, bukan . . .bukan menasehatinya. Justru bertanya sebab akibat jika dia tidak mau diambil darah dan diperiksa. Sampai ke prestasi belajarnya (Adam adalah murid dengan prestasi belajar di atas rata-rata). Adamlah yang merumuskan sendiri dialog-dialog kami. Di ujungnya saya menegaskan keputusannya. Dia sendiri yang memutuskan kalau dia akan mau kalau di ambil darahnya. Saya tersenyum . . .

Hari berikut, saya mendapat SMS dari Mbah Uti Adam . . . bahwa Adam sudah mau diambil darahnya. Dan Alhamdulillah hasilnya bagus, tak ada penyakit yang dikhawatirkan.

Ehm , , , , GURU: di GUGU lan di TIRU.

Rasanya idiom jawa tersebut masih bisa menjadi sebuah aktualisasi dalam sepak terjang guru dalam melaksanakan amanah kerja. Bukan hanya sekedar idiom kosong yang mulai dilupakan dan tak bermakna. Sekitar 4 tahun menjadi seorang pengajar dan pendidik (baca: guru, red) sudah lumayan melahap pengalaman yang berkenaan dengan “digugu lan ditiru”. Baik yang dialami teman-teman seprofesi, maupun yang saya alami sendiri. Bagi saya sendiri, rasanya itu sangat menyenangkan. . . .guru, terlebih guru sekolah dasar. Seharusnya, tidak hanya menjadi pentrasfer ilmu akademik di kelas yang kaku . . . tapi harus bisa mengajarkan hal penuh makna kehidupan, menjadi partner bagi orang tua murid. Kalau kata kepala sekolah saya yang dulu, walaupun belum menjadi orang tua . . .tapi harus mampu menjadi orang tua banyak anak di sekolah. Yup….Bismillah..