Memasak, Makan, Kesenangan, dan Keberkahan

0
368
Memasak bagi saya, bukan sebuah hobi. Bukanlah kesenangan yang sangat. Namun, ini juga bukan berarti saya tidak suka memasak. Memasak bagi saya adalah aktivitas kebutuhan, yang terlaksana jika di dukung mood, waktu, energi, dan tersedianya bahan. Jadi, kalau daya dukung itu tidak ada, maka lebih praktis pulang dari kantor mampir sejenak ke warung membeli semangkok sayur dan sedikit lauk . . . yang mencukupi untuk orang serumah.

Meskipun demikian, ketentuan di atas agak bergeser jika aktivitas memasak diembel-embeli kata keterangan “untuk suami”. Ini lain lagi, memasak untuk suami adalah sebuah kesenangan bagi saya. Mendekati hobi lah. Waktu saya yang tak banyak bersama suami, membuat saya secara rela dan senang hati memasak untuknya disaat sedang bersama. Alasan kenapa saya “hobi” masak untuk suami karena dia sering request kepada saya, karena dia selalu mengatakan masakan saya enak, karena apa yang saya masak untuknya selalu habis sering tak bersisa walaupun sesederhana apapun . . . I like this. Terlebih karena memang ada sensasi kesenangan tersendiri saat masak untuknya, menyantap hasil pekerjaan saya berdua saja. Yaa . . . harus saya akui, aktivitas ini menyenangkan karena berbalut rasa cinta . . .^^

Pun yang saya kerjakan hampir seminggu ini, saat saya punya waktu libur semesteran, punya waktu menemaninya di rumah kontrakan kami di Bandung. Setiap hari saya memasak untuk suami. Sarapan, makan siang, dan makan malam. Berganti-ganti menu, agar tak bosan. Dan jangan dibayangkan menu mewah “berdaging”, hehehe menunya sederhana dan praktis saja. Namun, saat makan ataupun usai makan . . . saya selalu mendapat pujian. Inilah kesenangan, yang membuat saya jadi punya hobi baru.

Seperti siang tadi, saya senang sekali karena tak sendirian. Kantor suami meliburkan karyawannya, sambut tahun baru. Tentu saja menjelang makan siang saya bersiap memasak. Melihat isi kulkas, ada beberapa bahan masakan. Kebiasaan saya, menyetok bahan makanan untuk beberapa hari. Setelah mikir-mikir, akhirnya saya putuskan untuk memasak seperangkat menu makan siang. Ehm . . . menu makan siang sederhana, namun saya tahu sekali suami saya menyukai menu ini. hehehe.

Sret . . . . srettt, tak perlu waktu lama bahan-bahan telah siap dimasak (kebiasaan saya juga, menyimpan bahan sayur dan bahan masakan lain di kulkas sudah dalam kondisi dipotong-potong lalu dimasukkan ke dalam storage -tupperw***-, ini memudahkan dan mempercepat proses memasak). Ini gambarnya . . .

Bahan yang siap dimasak

Tak sampe 30 menit bahan-bahan mentah di atas sudah berubah bentuk, rasa, dan tampilan, tentu saja jadi bisa dimakan ^^

Ini jadinya . . .

Setelah siap, karena suami sudah merasa lapar sebelum mandi lalu shalat Jumat . . . kita makan bersama dulu . . . dan 15 menit kemudian tandas sudah ^^

habis, tinggal beberapa^^

Menu di atas sederhana saja, hanya sayur bening (bayam-labu siam-wortel-kemangi), dadar jagung manis, sambal tomat+trasi, dan pelengkapnya kerupuk. Rasanya sederhana, nikmat dan menyegarkan.

Begitulah, kenikmatan makanan tak hanya dinilai dari bahan jenis makanan, namun proses pembuatannya, rasa yang dimiliki pembuatnya, juga cara kita menyantapnya dengan kesyukuran dan kebahagian merupakan unsur utama agar bisa merasakan kenikmatan masakan itu sendiri. Bismillah mudah-mudahan berkah.

“Apabila salah seorang diantara kalian hendak makan, maka ucapkanlah: ‘Bismilah.’ Dan jika ia lupa untuk mengucapkan Bismillah di awal makan, maka hendaklah ia mengucapkan ‘Bismillahi Awwalahu wa Aakhirahu (dengan menyebut nama Allah di awal dan diakhirnya).’” (HR. Daud Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih Ibnu Majah: 3264)