Membingkai Romansa

0
309


Dengan sedikit permintaan maaf kepada ibu-ibu rekan kerja dan minta tolong nitip tugas untuk hari Jumat, akhirnya jadi juga saya ke
Bandung. Ceritanya mumpung hari Sabtu tanggal merah hari Waisak, Jumat ijin (kebetulan selama ini saya termasuk guru yang paling jarang ijin) jadi bisa 3 hari menemani suami. Perjalanan pun dimulai, Setelah sekitar 11 jam berkereta malam Madiun – Bandung, Jumat jam 07.30 untuk kedua kalinya saya menjejakkan kaki di stasiun Bandung. Tentu saja suami yang menjemput. Dan pertemuan tentu saja membawa kebahagiaan, maklum hubungan jarak jauh . . . kebersamaan yang sangat terbatas, membuat kami seperti mengikuti trining kesabaran.


Dan 3 hari selama bersama, tidak akan tersia-siakan, dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk membingkai romansa, kedekatan, dan juga ta’aruf lanjutan . . . hehe. Walaupun udah kenal sejak SMP ^_^ . . . bukankah ta’aruf sebaiknya terus berlanjut, untuk bisa semakin menyelami karakteristik pasangan dan menumbuhkan pemahaman terhadapnya. Sekali lagi, terlebih karena saya dan suami berjauhan.


Beda dengan dulu, ketika saya ke Bandung 2 pekan setelah menikah yang lebih banyak diam di kost suami . . . Untuk kali ini walau hanya 3 hari bisa lebih banyak keluar kost, untuk tahu lebih tentang Bandung. Dengan sedikit memaksa juga, akhirnya suami mau mengantarkan dan menemani saya belanja di pasar baru Bandung. Sebenarnya bukan untuk saya, tapi ada 3 orang yang titip sesuatu kepada saya. Seperti umumnya seorang perempuan belanja pasti tidak bisa sebentar . . . alhamdulillah suami masih cukup bersabar berdiri menunggui saya, walau sejurus kemudian menjadi agak cemberut dan berulang kali melirik jam dipergelangan tangan . . . hehe. Afwan wa sukron yaa Mas.


Hal lainnya adalah menemani suami main futsal. Nah, terwujud juga keinginan kami berdua. Main futsal ditemani Istri dan menemani suami main futsal. Pada sabtu sore, ketika mendung menggantung di langit Bandung, yang saat kami sampai ke GOR tempat main futsal . . . hujan turun deras. Dilanjutkan dengan makan malam berdua, suami saya menyebutnya kencan kuliner. Memang selama ini, saat-saat berdua pasti ada acara incip-incip makanan, baik di Magetan, Madiun, dan juga Bandung.


Ahad pagi, suami saya berbaik hati mengajak saya ke Gazibu. Orang bilang, kalau pergi ke Bandung dan belum mengunjungi Gazibu itu sama saja belum ke Bandung. Kali ini kami memilih naik angkot, dengan pertimbangan daripada harus nyari-nyari tempat parkir. Jalan dan melihat-lihat nyari sesuatu yang menarik. Pilihan saya jatuh ke bros-bros unik dari batok kelapa, beli sepuluh bonus satu . . . buat dibagi ke teman-teman liqo’. Saya hanya membeli itu. Eh suami malah membeli beberapa barang, hati pun bertanya-tanya . . . nah sekarang siapa yang ngantar siapa neh . . hehe. Lelah berjalan perutpun mulai protes, dan saatnya sarapan. Kami berdua mulai mencari tempat makan yang kira-kira layak dicicipi . . . adanya pedagang kaki lima. Nyari tempat yang lumayan, bingung juga karena sama-sama belum pernah, gak tahu mana yang enak. Akhirnya saya mengikuti teori suami tempat yang enak adalah yang ramai pembelinya. Jatuhlah pilihan kami di lontong kari sapi. Hangat dan lezat, pas benget disantap untuk sarapan.


Siangpun terbingkai dengan beberapa perjalanan keluar nyari oleh-oleh dan makan juga. Serta waktupun terus berjalan tak mau dihentikan, tak terasa sore sudah diambang. Selepas ashar . . . mau gak mau harus persiapan untuk balik ke Magetan. Karena amanah hari senin sudah menanti, menjadi pengawas UASBN SD. Berat juga sebenarnya, tapi mau gimana lagi . . . harus dijalani, sudah pilihan. Ketika rintik hujan, ditingkahi air mata yang memaksa keluar walau sudah ditahan. Gerbong kereta Turangga pun, seperti biasanya . . . sekali lagi memisahkan kebersamaan kami berdua . . .