”Tarikan” PGRI Disoal

1
224

Guru di Magetan resah. Ini buntut beredarnya surat permintaan sumbangan dari PGRI yang dinilai memberatkan. Sumbangan tersebut akan digunakan PGRI untuk membangun gedung di Jalan Kemasan. ”Surat edarannya juga banyak kejanggalan,”kata salah seorang guru SMA di kawasan pinggiran, kemarin (13/8).

Terkait dengan pembangunan gedung atau wisma guru, PGRI Magetan memungut sumbangan yang besarnya bervariasi. Yakni, Rp 100 ribu untuk guru PNS yang sudah menerima tunjangan sertifikasi. Lalu, guru non PNS yang menerima tunjangan sertifikasi dimintai sumbangan Rp 40 ribu. Sedangkan guru PNS yang belum bersertifikasi diminta sumbangan Rp 20 ribu.”Namanya sumbangan. Tapi, kok disebutkan nominalnya. Apakah ini bisa dinamakan sumbangan, apakah itu bukan pungutan,” kata M. Agus Tholib, koordinator guru SMP bidang olahraga kepada koran ini. Yang aneh lagi, tembusan surat tersebut tidak sampai pada Bupati Sumantri.Padahal, apa pun namanya, terang Agus, bupati sebagai kepala wilayah atau daerah harus tahu dengan adanya permohonan sumbangan dari PGRI tersebut.

”Waktu kami koordinasikan, ternyata bupati belum tahu sama sekali kalau ada pungutan tersebut. Ini kan aneh bin ajaib. Mengapa bupati selaku kepala daerah tidak tahu sama sekali,” terang Agus. Yang janggal lagi, dalam surat edaran tersebut juga tidak disebutkan batas waktu penarikan sumbangan. Apakah cuma sekali, dua kali atau selama satu tahun. Dalam surat tersebut tidak ada batasan waktu. ”Ini yang membuat repot.”Kejanggalan ketiga, di akhir SK tersebut juga tidak dicantumkan kata-kata pembetulan. ”Lazimnya sebuah SK, di akhir surat itu biasanya ada kata-kata : bilamana ada kesalahan di kemudian hari, surat akan dibetulkan. Akan tetapi, SK dari PGRI ini tidak ada. Jadi, surat PGRI itu absolut benar,” jelas Agus.

Ketua PGRI Thoyep Rantiono belum bisa dikonfirmasi terkait keluhan ini. Namun, saat silaturrahmi beberapa waktu lalu, PGRI sudah mempertimbangkan matang terkait sumbangan tersebut. ”Yang jelas, pembangunan gedung atau wisma guru tersebut merupakan amanah kongres di Sarangan. Gedung ini bisa menjadi kawah candradimuka untuk berbagai kegiatan guru,” kata Thoyep. (rif/isd)

jawapos

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here