Untuk Mendukung Petirtaan Dewi Sri sebagai Objek Wisata

2
288

Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) terus memantau pemugaran Petirtaan Dewi Sri di Desa Simbatan, Kecamatan Nguntoronadi, Magetan. Kepala Disparbudpora, Suwaji, mengatakan bahwa pemugaran itu dibiayai sepenuhnya oleh APBN dan dilakukan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, Mojokerto. ” Pemugaran dilakukan multiyears, ” kata Suwaji kepada koran ini, kemarin (15/4).

Rehabilitasi Petirtaan Dewi Sri itu, menurut Suwaji, dilakukan dalam beberapa tahap. Pertama, butuh waktu enam bulan di tahun 2008, kemudian tahap II tahun 2009 dan fase ketiga di tahun 2010 yang akan dimulai pada bulan Mei mendatang. ”Untuk tahap ketiga, waktu pemugaran selama lima bulan,”ujar dia.

Menurut dia, kondisi Pertirtaan Dewi Sri sebelum pemugaran sebagian besar struktur terpendam dalam tanah,seluruh struktur selalu terendam dalam air dan mengalami kerusakan, seperti roboh, miring, retak, dan ambles. Ke depan atau pasca pemugaran, lokasi Pertirtaan Dewi Sri ini diharapkan memiliki potensi besar untuk kawasan wisata budaya dan sejarah di Magetan. Sebab, dengan pemugaran kelak akan diketahui bagaimana wujud pertirtaan secara utuh.

Guna mendukung kawasan Petirtaan Dewi Sri menjadi kawasan objek wisata, pemkab diminta untuk memperluas lahan menjadi sekitar satu hektare.Dari areal seluas itu,akan dibangun sejumlah fasilitas pendukung. Seperti lokasi parkir, dan tempat permainan anak. Petirtaan Dewi Sri di Desa Simbatan itu merupakan benda cagar budaya. Sejak tahun 2007, dilakukan pemugaran sebagai upaya pelestarian terhadap benda cagar budaya sesuai UU No.5/1992. ”Dari pemugaran itu juga diharapkan akan menampakkan seluruh struktur bangunan, mengembalikan bentuk struktur bangunan dan menata lingkungan situs,”ujarnya.

Dari sisi arkeologis, bukti eksistensi sejarah di sekitar Pertirtaan Dewi Sri banyak didukung temuan lain berupa artefak. Antara lain, miniatur lumbung 7 buah, fragmen arca 7 buah, palung batu 1 buah, fragmen yoni 1 buah, sumur kuno 1 buah, fragmen kemuncak 1 buah dan lumbung baru 4 buah. Dijelaskan, berdasarkan inskripsi yang terdapat pada atap miniatur lumbung,berupa angka tahun 906 Saka (984 Masehi) dan 917 Saka(995 Masehi). Sementara itu, pahatan sangkha (siput) bersayap pada atap miniatur lumbung merupakan tanda resmi pemerintahan Sindok pada abad 10.(rif/isd)

radarmadiun

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here